Oleh Putu Swastawa
Semesta ini dibuat dengan begitu sempurna, tidak ada hal terjadi karena tidak diberi arti, semuanya terjadi atas dasar disukai untuk ada, entah dalam wujud yang menyenangkan atau menakutkan, yang penting: dipikirkan. Mungkin terlihat begitu jahat bahwa pikiran buruk dikabulkan, tapi pikirkan kembali anggapan ini.
Diwujudkannya pikiran yang buruk adalah untuk memberikan pelajaran agar hal itu tidak dipikirkan kembali atau diselesaikan. Jika hal itu diwujudkan berbeda, maka engkau mungkin akan mengatakan bahwa apa yang engkau terima adalah nasib, tidak mau mengakui bahwa itu adalah karma-mu, sesuatu yang engkau pikirkan dan sukai keberadaannya. Di lain pihak, engkau mungkin merasa hidupmu tiada arti bagaikan sebuah wayang yang gerakan dan pemikirannya tidak pernah engkau miliki seutuhnya.
Setan, tiada pernah ada. Dia hanya wujud dirimu yang masih dominan dalam kebodohan. Oleh karena itu, engkau tidak dapat melawannya. Engkau perlu bersabar dan mencoba melihat dan mengenal dirimu saja, sebagaimana engkau menelusuri atau menjelajah lingkunganmu yang belum engkau ketahui, padahal itu menjadi tempat tinggalmu. Ketika engkau tahu dirimu, maka setan itu menjadi benar-benar tiada.
Setan, menjadi menakutkan, akibat kondisi cerah diri yang bagaikan ter-terangi oleh cahaya bulan. Semakin besar angin atau bayu yang engkau miliki maka semakin menyeramkan bayang-bayang ketakutan dirimu sendiri terhadap lingkungan yang sebenarnya ada untuk membantumu.
Dan malaikat, adalah wujud dirimu yang benar-benar engkau lihat/ketahui dengan jelas, dalam terpaan ke-cerah-an laksana diterangi cahaya mentari.
Terinspirasi oleh status seorang teman di wall facebook:
Agung Arjun Surya Visvadeva Setan memang selalu ada di dekat kita bunda, ia selalu membisikkan suatu kata saat hati kita sedang resah, anehnya bisikan setan selalu tepat waktu, berbeda dengan bisikan dari malaikat yang amat lambat. Saat situasi menyuruh kita berbohong, maka dengan cepat setan berbisik “kini saat tepat lakukanlah”.
Salam bahagia
