Di dunia ini, ada banyak hal dan semuanya memperoleh kebahagiaan masing-masing. Jika kita mengamati bahwa seseorang yang memperoleh kebenaran sejati mengalami kebahagiaan, sementara hal atau orang lain juga mengalami kebahagiaan, dapatkah seseorang mengklaim bahwa dia saja yang memperoleh kebenaran sejati?
Hm.. mungkin sebuah taktik pedagang di pasar, di hadapan pesaingnya dia berpromosi ini itu dan selalu berkata bahwa barang dagangannya yang terbaik, yang menjadikan dia semakin jauh dari arti kejujuran sebagai seorang pedagang, apalagi jika yang dijadikan bahan adalah masalah spiritual dan agama, maka semakin jauh dia dari arti kejujuran spiritual. Memang, dia berkepentingan dengan pembeli maka dia akan berpromosi.
Namun, masalah kebahagiaan spiritual bukan transaksi biasa, kejujuranlah yang menjadikan dagangannya dibeli oleh sang mentari spiritual atau tuhan dan kebahagiannyalah yang menjadi ciri apakah kebenaran sejati yang dipromosikannya diakui benar oleh kenyataan atau tuhan ataukah dia memang pedagang biasa. Sebagai seorang yang belajar, saya hanya dapat mengamati dan memberi kesimpulan terhadap dia, benarkah dia dapat bahagia seterusnya?
Biarlah dia berpromosi ini itu, saya biarkan orang lain yang memakai dan saya cukup menarik kesimpulan dari kebenaran sejati yang dipromosikannya. Sebab, di dunia ini, ada banyak bintang dan ada banyak planet, mentari tidak dapat menyatakan bahwa dirinya adalah bintang tunggal di jagat raya.
Sebagai pertimbangan kebenaran sejati, apakah matahari atau bintang lain layak dinyatakan sebagai kebenaran sejati atau penerang sejati, saya berikan contoh: Di jagat raya ini, ada banyak bintang. Di bumi ini, yang terangnya menyelimuti bumi adalah matahari.
Realitanya, kebenaran sejati dan realita menyatakan bahwa tidak ada bintang lain sanggup memberikan penerangan sejati sebagaimana matahari. Bintang lain nun jauh di sana, hanya sekerlip terang tanpa mampu menerangi jalan kehidupan kita di bumi ini.
Kebenaran sejati adalah yang memberikan dukungan atas keberadaan orang tidak sebatas kebahagiaan dalam pikiran. Maka, sapat saya contohkan dengan sebuah realita: Di dunia ini, kita memijak tanah ini, yang mendukung keberadaan kita di wilayah ini. Jadi ini adalah kebenaran sejati dan nyata untuk kita, sebab dia hadir bukan saja sebagai kebahagiaan dalam rasa, tetapi hadir juga dalam wujud nyata. Atas kenyataan ini, bagaimana saya bisa mengatakan bahwa tanah di seberang pulau sana adalah kebenaran sejati, walaupun di sana ada seseorang yang sakti sebagaimana para dewa atau nabi atau yang lain.
Salam bahagia

[...] Kebenaran Sejati [...]
I want to quote your post in my blog. It can?
And you et an account on Twitter?
Dear, Sverek, I had follow you on twitter, by name Putu Swastawa.
good day