Banyak kejadian, seseorang tidak menyadari apa yang diinginkan. Jika di kemudian hari hasilnya baik, mereka tidak tahu menahu dan hanya mengerti bahwa mereka menerima hujan tanpa sebab. Jika hasil yang diterima ternyata buruk, mereka tidak berkata bahwa mereka tidak siap menerimanya.
Kejadian demikian banyak terjadi pada orang-orang yang memperoleh sebuah kondisi baik tanpa melalalui kesadaran dan penerimaan bertahap.
Kutipan Kisah Mahabharata
Dewi Kunti adalah seorang putri kerajaan. Dengan kondisi istana yang terbimbing dengan baik, akhirnya dia dapat menjadi gadis yang suci hingga masa remajanya.
Pada suatu ketika, seorang brahmana menghadiahkan ‘pintu pembuka’ untuknya sehingga dia dapat memanggil dewata ke hadapannya. Pada dasarnya, Kunti tidak menyadari sepenuhnya apa yang dia pertahankan sehingga dia menjadi seorang gadis yang memiliki kesucian dan berhak menerima anugrah dari sang brahmana. Karena itu, ada bagian yang diremehkannya, yaitu bagian peringatan ketika menggunakan anugrah tersebut. Bagian ini adalah sisi gelap yang dipelihara oleh Dewi Kunti.
Berbekal keraguan, dia mencoba anugrah dari sang brahmana tanpa mengingat bagian peringatan dari sang brahmana. Dia memanggil dewa Surya, dewanya matahari. Dewa Surya datang dan sesuai kesepakatan pemanggilan, sang Dewa Surya harus memberikan anugrah.
Dalam kesepakatan pemanggilan seorang pria oleh seorang wanita, maka sang wanita menginginkan sang pria menemani kehidupannya.
Atas dasar itu, dewa Surya menghadiahi dewi Kunti seorang anak yang akan dibesarkan melalui rahim Dewi Kunti. Arti berikutnya adalah Dewa Surya harus menyentuh Dewi Kunti. Maka hamillah Dewi Kunti sementara itu Dewa Surya kembali ke kahyangan.
Demikianlah, ketidaktahuan yang dipelihara seseorang, menjadikan orang tersebut menyatakan diri tidak siap menerima hasil perbuatannya.
Salam bahagia
