Setan, jin, dan sebagainya adalah kehidupan di tempat kegelapan yang kita miliki. Mereka terikat pada kesepakatan yang tidak dapat mereka tentang, yaitu mereka hanya ada ketika kita menginginkannya. Bukan hanya setan, semua yang ada dan kita terima, akan hadir ketika diinginkan. Mereka tidak pernah ada dan tidak dapat berbuat apapun ketika kita tidak pernah menginginkannya.
Kita dapat berkreasi apapun, termasuk dalam rupa bagaimana setan itu dapat ada. Entah ingin berupa raksasa, kerbau, sapi, batu diam, dan lain-lain. Mereka hanya mengabulkan keinginan kita. Ketika kita amat memujanya, maka mereka manjadi semakin kuat di mata kita, karena kita menginginkan mereka kuat dan menginginkan kita lemah.
Namun, ketika kita dalam keadaan tidak tahu, kita lebih sering menginginkan mereka ada, karena untuk dapat menghadirkan mereka amatlah mudah. Tidak perlu belajar apapun. Namun sebagai gantinya, kita harus memberikan tumbal atau korban. Tumbal atau korban itu tiada lain adalah diri kita sendiri.
Mengapa tumbal untuk setan atau jin itu adalah diri kita sendiri?
Mungkin, seorang yang memuja setan begitu bersenang hati dapat menjadikan ‘orang lain’ sebagai tumbal. Namun, akibat kegelapan dan kelemahan mereka, mereka tidak menyadari bahwa orang yang dijadikan kurban atau tumbal itu memperoleh kegunaan atas disenangkannya mereka dan memperoleh tempat lebih baik dari mereka. Berbeda halnya dengan orang yang menyembah jin atau setan, dia akan semakin ‘wajib’ membayar hutang atau membayar korban. Mereka akan semakin tidak bisa lepas dari kegelapan dan mereka semakin kebingungan akibat makin mudahnya mereka kehilangan kebahagiaan.
Secara perlahan, jika orang lain di luar keluarga mereka tidak dapat dikorbankan, mereka akan mengorbankan keturunan dan diri mereka sendiri, yang artinya adalah mereka menjadikan diri mereka sebagai lubang hitam atau black hole untuk kematian mereka sendiri.
Salam bahagia

[...] Ini adalah penggalan kisah pendek dan sederhana dan umum terjadi. Saya sebagai orang berilmu tentunya tahu bahwa sakit perut itu disebabkan oleh capsaicin dari sambal. Bumbu yang banyak juga turut membantu. Bukan setan yang menjadikan dia sakit, namun dia menggelapkan pikirannya dan melanggar pengetahuannya sendiri tentang efek makanan. Ya, dia menggelapkan pikirannya sendiri. Jika saja dia tetap menjaga kejujuran dan menjaga pikirannya tetap terang, dia akan nyaman BAB, dan tidak harus menjadi raja WC hingga 35 menit. Lalu, bagaimana dengan ’sifat’ ketika menyalahkan setan? Ya.. jelas kita tahu, dia bukanlah orang yang mau bertanggung jawab terhadap tindakannya sendiri alias dia suka mangkir. Setannya tidak pernah ada, dia hanya ada jika kita menginginkan dia ada. [...]
[...] Kita Inginkan Setannya Ada [...]