Agama pramana diartikan cara mengisi pikiran dengan membaca atau menyimak ajaran-ajaran agama.
Saya kembalikan kepada definisi ‘agama’, yaitu sesuatu yang tidak pergi maupun berubah. Sesuatu yang tidak pergi atau tidak berubah adalah hal yang setia dan jujur.
Hal ini terkait dengan kitab-kitab agama yang direferensi sebagai sumber untuk mengisi pikiran. Dalam perjalanan dari satu tempat ke tempat lain, beberapa orang menterjemahkannya dan tentu saja penterjemahan ini akan memuatkan ‘isi’ dari penterjemahnya.
Sebagaimana air dari langit, mengalir melalui tanah-tanah di bumi akan memuat ‘isi’ dari daratan yang dilaluinya dan menjadikan air terakhir yang sampai kepada kita memuat ‘isi’ dari daratan yang sudah dilalui.
Realita ini harus diperhatikan. Dalam penerimaan ajaran dari kitab terjemahan, pengotor dari penterjemah akan termuat dalam apa yang disampaikan. Kadang kala, pengotor ini sengaja ditambahkan sehingga sangat berbahaya bagi kehidupan, misalnya untuk menggalang kekuatan dalam rangka invasi atau konversi kepercayaan atau agama lain.
Dalam beberapa kitab, realita ini diberi perhatian serius. Hal ini diingatkan dengan kata-kata singkat, misalnya dalam istilah orang Hindu, ada yang dikatakan sebagai Catur Purusa Artha, dimana Dharma diletakkan sebagai bagian pertama. Kemudian, pada bagian Catur Yoga, Karma Marga Yoga diingatkan sebagai bagian pertama dari bagian-bagian lain. Hal-hal yang berkaitan dengan kesaksian atau pratyaksa selalu diletakkan sebagai bagian pertama.
Pembelajaran dengan pratyaksa akan menetralkan semua ‘kesalahan’ atau ‘pengotor’ yang ditanamkan dalam ajaran-ajaran yang disampaikan. Namun, dalam ajaran-ajaran tertentu dimana pengotor ini sengaja ditambahkan, ketentuan pencarian kebenaran dengan menyaksikan sendiri dikekang agar orang yang dipengaruhi tetap dalam kekangan.
Salam bahagia
