Oleh Putu Swastawa
Marilah kita mencoba berpikir tentang kemerdekaan sejati sebelum mendalami arti pemerdekaan sejati. Kita belajar dari sesuatu yang tidak berubah dari masa ke masa dan hadir kepada kita paling lama atau boleh dikatakan hadir kepada kita sepanjang kita masih bisa melihat.
Kita akan belajar dari sesuatu yang masuk ke dalam mata, karena umumnya kita mengatakan belajar untuk hal-hal yang masuk dari mata. Maka, kita pilih bahan belajar, atau sesuatu yang sifat-sifatnya dapat kita pelajari:
- Hadir dengan sifat yang sama dari waktu ke waktu. Hal ini sangat penting agar semua roang dari berbagai jaman memperoleh pengetahuan yang sama tentangnya dan mencegah penafsiran yang berubah menurut jaman.
- Hadir kepada setiap orang dengan cara yang mudah. Ini adalah salah satu sifat kemahakuasaan dari tuhan. Sebab, tuhan mengetahui bahwa manusia bodoh sehingga dia tidak menjadikan manusia susah untuk menjadi orang pintar atau berpengetahuan
- Memberi keadilan kepada semua hal. Seorang tempat kita belajar dan patut ditiru adalah hal yang adil terlepas dari rasa jijik dan relativitas baik-buruk. Seandainya sifat relatif baik dan buruk ini melekat, sangatlah berbahaya mengingat manusia di awalnya banyak kesalahan, dan tentu saja ini dapat berakibat dibinasakannya semua ciptaan di awal pengadaannya.
- Secara mudah dapat diartikan ‘menerangi jalan’, artinya menyelesaikan kesulitan dan tersandung masalah.
- Menghormati keputusan dan pribadi. Walaupun mungkin keputusan itu buruk, keputusan itu harus dihormati, sebab penghormatan itu akan menumbuhkan pribadi yang bangga akan eksistensi dan kebahagiaan.
- Dan sifat lainnya.
Hal yang memenuhi semua ini adalah matahari. Matahari menghormati kebebasan dan kreasi setiap tumbuhan untuk berkreasi membuat bunga berdasarkan kemampuannya. Tidak ada perlakuan bahwa matahari menimpakan kreasi bunga melati kepada tanaman anggrek, tidak pula mengatakan bahwa menjadi matahari harus dilakukan oleh anggrek.
Itulah wujud pemerdekaan sejati. Pemerdekaan yang menghormati pribadi dan kreasi semua pribadi, tidak dengan mengkonversinya mengikuti pribadi atau kreasi orang atau kelompok lain, namun tetap dalam pengarahan fungsi guru.
Salam bahagia
