Arsip Permata Kehidupan

Intan, Permata Kehidupan Utama, Yang Meneruskan Cahaya Tanpa Mengurangi Namun Memberi Kreasi

Putu Swastawa

Saya, Putu Swastawa.

Saya seorang penduduk di Pulau Bali, Indonesia. Tempat dimana orang-orang masih mempertahankan warisan leluhurnya. Tempat dimana anda menjumpai orang-orang yang dianggap “kafir” atau “orang kegelapan” oleh para penyebar agama Kristiani ( misionaris ) maupun penyebar agama Islam. Tiada lain, karena kami memberikan sesaji di atas atau di depan sebuah patung atau hal yang berwujud patung maupun tumbuhan, dan kami mengenal banyak dewa sebagaimana kami mengenal banyak gurat cahaya matahari sebagai pelangi, sebagai implementasi wujud tuhan yang familiar kepada kami. Tentu saja tata cara kami berbeda dengan ketentuan dalam Islam maupun kristiani, karena itu kami disebut “kafir” atau “orang kegelapan”, dan perlu dikonversi menjadi “Islam” ataupun “Kristen”. Mereka menyisip dalam kehidupan harian kami, menjadikan orang-orang kami di desa sulit mengidentifikasi bahwa mereka adalah konverter agama dan dengan kepolosan mereka, mereka akhirnya mau dikonversi. Tetapi, kami memiliki kelemahan hukum, sebab konversi agama ini berlangsung seolah-olah alami dan kami akan sulit membuktikannya secara hukum.

Yang sangat pintar adalah para konverter agama kristen ( kata teman saya, katolik tidak melakukannya ). Mereka menggunakan istilah-istilah dan semua hal yang mirip atau meniru tata cara kami sebagai orang Bali, dan ini memang sebuah strategi  sangat canggih. Istilah-istilah yang pernah mereka gunakan dulu, misalnya “suastyastu” dan istilah-istilah lain yang mirip dengan istilah yang kami gunakan. Sehari-harinya, kami mengenal “Sang hyang widhi” dan mereka menggunakan “Sang hyang Yesus”. Ini telah menjadikan masyarakat kami di desa pedalaman tertipu. Demikian juga arsitektur bangunan pura kami ditiru, hanya saja ada Patung Yesus dan Salib terpajang besar di depan bangunan, dan bangunan ibadahnya menggunakan atap, tidak sebagaimana tempat ibadah kami yang tanpa atap. Mereka masuk melalui celah kemiskinan dan kondisi kekurangan pangan maupun kebutuhan pokok lainnya, serta celah kelemahan sistem hukum di negara Indonesia.

Panduan oleh leluhur kami yang dipertahankan telah menjadikan Pulau Bali sebagai pulau surga atau pulau Dewata, “The Paradise Island”. Namun, hanya kami (yang mempertahankan jati diri sebagai pemeluk Hindu Bali ) dapat melestarikan kebudayaan Bali, karena kami tidak ada larangan menghaturkan sesaji di atas patung atau di depan pepohonan. Saudara-saudara kami yang telah dikonversi menjadi bukan Hindu Bali, tidak dapat melakukannya karena mereka di larang melakukan seperti kami.

Salam bahagia

You must be logged in to post a comment.