Beberapa hari yang lalu, saya bersama seorang teman makan di sebuah warung. Seperti biasa, saya memesan sayur dengan bumbu yang sedikit, bersama sepotong tempe tebal. Sementara teman saya memesan makanan dengan lauk daging berbumbu banyak dan sambal. Menikmatinya dengan senang hati.
Kami menikmati dengan konsep yang sama, yaitu kami mau memakannya karena enak. Saya tidak bisa merasakan sambal dan bumbu banyak dan daging itu sebagai hal enak, saya sangat suka melihat dan memakan sayur. Teman saya merasakan sayur dan tempe sebagai makanan tidak enak, dia melihat dan menyukai sambal, daging dan bumbu banyak. Ya, kami terpaksa menerima makanan masing-masing, karena makanan ini enak. Jika makanan ini tidak enak, kami tidak mau makan… ha ha ha
Kebetulan kami tinggal berdekatan dan malamnya dia bertandang ke tempat tinggal saya untuk mengerjakan sebuah tugas bersama, hingga dia harus menginap. Pagi-pagi, seperti biasa, kami buang air besar. Saya sangat nyaman buang air besar. Semuanya keluar dengan begitu lancar tanpa harus ngeden kuat-kuat sambil muka tersenyum kecut menahan sakit. Dalam beberapa menit, saya sudah selesai dengan senyum cemerlang.
Teman saya mengikuti setelah saya selesai. Dengan terburu-buru dia masuk WC. Terdengar beberapa saat kemudian dia mengerang.. ya dia ngeden dengan kuatnya. Sekitar 35 menit dia di dalam WC menguasai wilayah itu sendirian. Kemudian dia keluar dengan bersungut-sungut,”huh.. perutku sakit sekali dan aku BAB nggak lancar… . Kayaknya setan sedang menyerangku!”
Ini adalah penggalan kisah pendek dan sederhana dan umum terjadi. Saya sebagai orang berilmu tentunya tahu bahwa sakit perut itu disebabkan oleh capsaicin dari sambal. Bumbu yang banyak juga turut membantu. Bukan setan yang menjadikan dia sakit, namun dia menggelapkan pikirannya dan melanggar pengetahuannya sendiri tentang efek makanan. Ya, dia menggelapkan pikirannya sendiri. Jika saja dia tetap menjaga kejujuran dan menjaga pikirannya tetap terang, dia akan nyaman BAB, dan tidak harus menjadi raja WC hingga 35 menit. Lalu, bagaimana dengan ‘sifat’ ketika menyalahkan setan? Ya.. jelas kita tahu, dia bukanlah orang yang mau bertanggung jawab terhadap tindakannya sendiri alias dia suka mangkir. Setannya tidak pernah ada, dia hanya ada jika kita menginginkan dia ada.
Baca artikel lainnya yang mendukung:
- Kebenaran Sejati
- Matahari – Guru Kasih Sejati
- Akhir Jaman – Kekosongan
- Konversi Agama Bagai Memancing Ikan
- Akhir Jaman Pohon Cabai
- Tuhan, Dapat Hadir dalam Semua Rupa
- Matahari, Media Pengingat Sang Hyang Widhi
- Wujud Pertama Tuhan
- Widyadari
- Kemahakuasaan dan Keragaman
- Rahasia Kehidupan
- Tuhan Satu Wujud, Bukan Mahakuasa
- Kita Inginkan Setannya Ada
- Konsepsi Perubahan
Salam bahagia

[...] Setan ataukah Pikiran Gelap [...]
[...] Iblis Topik ini memerlukan kejujuran penilaian dan perlu diamati secara nyata. Baca dulu artikel setan ataukah pikiran gelap. Selanjutnya, perkirakan apa yang akan saya sampaikan ini, sebuah cerita yang tidak banyak bedanya. [...]