Oleh Putu Swastawa
Kunti Ayu Vedanti melihatku tak cukup hanya sekilas, karena ku tak akan berbagi apapun dengan yang melihatku sambil berlalu, dan izinkanku walau sekedar berbagi satu bait cerita denganmu.
Kita hidup bukan seperti sebuah kamera atau scanner komputer, dimana sudah cukup apa yang tampak melalui mata dan tersimpan di dalam memori dalam sebuah pandangan sekali. Ada banyak dimensi tak tampak dan semuanya berkembang makin lengkap, sehingga pandangan sedetik tidak cukup menjelaskan sesuatu yang kita amati, apalagi jika itu adalah sosok kehidupan. Bagaikan cuaca di bumi, begitulah penampakan manusia dan semua yang hidup, berubah dan berkembang makin lengkap dan makin hari menunjukkan wujud yang seutuhnya.
Andai saja kita kenal hari ini, dan jika engkau adalah wanita cantik, dapat saja saya tidak tertarik kepadamu atau mungkin saya tertarik kepadamu. Namun, pandangan saat ini tidak cukup menjelaskan bagaimana keadannya nanti. Aku yang tidak mencintaimu saat ini dan berlaku biasa mungkin dapat selalu dekat denganmu tanpa rasa risih, demikian pun denganmu. Berbeda halnya ketika aku sangat tertarik denganmu walaupun aku pertama kenal denganmu, dan tindakanku lebih sering menjadikanmu menjauh karena merasa risih.
Atau dalam hal lain, karena aku dan kamu saling tertarik dengan demikian cepat, menjadikan kita sering kali bersama. Akhirnya, karena terlalu sering berjumpa tanpa proses belajar mengerti ketertarikan itu, tercapailah rasa jenuh yang menjadikan kita terpisah jauh dan di sanalah kita berhenti untuk saling mengetahui.
Yang bermanfaat adalah ketika pertemanan terjadi dan kamu sering berbagi masalah denganku karena kamu tidak risih denganku, menjadikan aku dapat mengetaui detil dirimu, dan menjadikan aku dapat melihat bagaimana aku dapat berguna untukmu. Secara lambat laun, aku akan mencintaimu dan memastikan aku bersamamu dalam kondisi aku sangat mengenal dirimu dari segala sisi.
Salam bahagia
